Alam adalah punya kita bukan milik kita

Masih tersisa halaman kosong dari banyak halaman yang sebenarnya dapat kita isi dengan sebuah harapan-harapan idealisme terhadap alam. Halaman kosong adalah sebab dan akibat yang terpenakan dalam memori otak-otak cerdas manusia. Dan tulisan ini hanya sebagian dari sedikit harapan, sekedar mengulang kembali pertanyaan siapa diri kita sebenarnya?

Alam bagai batu yang tersusun dari tulang belulang manusia sendiri, memang itulah adanya bahwa kelak manusia mati juga akan kembali ke tanah, manusia pertama pun lahir dan terkubur di dalam tanah. Maka sangat ironis kita sebagai manusia mengingkari jati diri kita sendiri dengan memaksa alam untuk melayani kita, bukan sebaliknya.

Nenek moyang kita mungkin lebih mengenal dekat dengan alam, atau bahkan bisa juga benar anggapan bahwa alam menjadi sahabat nenek moyong kita kala itu. Segala kebutuhan manusia tersedia secara gratis di alam, yang nenek moyang kita lakukan adalah menjaga agar alam tetap lestari dan mencukupi segala kebutuhannya. Perubahan jaman dengan segala tuntutannya menjadikan manusia terlena dan sudah lupa, siapa sebenarnya yang memenuhi semua kebutuhan hidup kita sekarang kalau tidak lain adalah alam.

Revolusi industri saat awal perkembangannya

Revolusi industri saat ini

Simbolisasi keterlenaan kita dimulai dari apa yang dikenal oleh manusia sebagai revolusi industriTonggak sejarah dimana manusia mulai mengekspolitasi alam dengan sepuasnya tanpa memperdulikan akibat dari tindakan egois itu sendiri. Dapat kita saksikan sekarang bagaimana keberhasilan manusia dengan kecerdasannya telah merasa sombong atas semua kemajuan tekhnologi yang ada sekarang. Dan tanpa sadar telah melupakan warisan-warisan sikap nenek moyangnya sendiri, sikap menghargai dan menyandarkan semua kepada alam.

Seketika mata manusia terbuka lebar. Ketika alam membakar api amarahnya dengan simbol bencarna. Serta merta sambil menangis manusia mengiba pertolongan kepada alam. Segala kemajuan tekhnologi manusia tidak dapat menunda datangnya bencana. Dan kita masih saja kita beranggapan kitalah korban dari bencana. Jadi mari kita bertanya, apa itu bencana, dan apa itu korban? sudahkah kita sadar jika bencana adalah kita, manusia sendiri, dan korban adalah alam. Alam hanya sedikit menjawab doa-doa manusia agar selalu terus memberikan semua yang dia punya untuk kebahagian manusia. Tapi, bolehkan jika alam sendiri yang berdoa?

Ketika bencana itu datang

 

“Berikanlah sedikit rasa peduli kalian hei manusia, kepada saya alam, untuk memberikan suatu peringatan kepadamu manusia, bahwa saya sudah tua sekarang”

About jojkalien

ingin tempatkan beberapa idealis untuk kelestarian alam View all posts by jojkalien

Komentar kalian

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: